Simbiosis Manusia dengan Lingkungan


Keindahan dan kebersihan selalu dapat memberikan kenyamanan pada setiap orang. Ketika kita melihat pemandangan alam yang indah, kita akan merasa bahagia. Sebaliknya, ketika kita melihat pemandangan lingkungan yang kotor dan jorok, kita akan berusaha menjauh atau tidak mau berdekatan dengan lingkungan tersebut. Hal tersebut adalah fitrah dari manusia, yaitu menyenangi keindahan dan kebersihan.

Fakta yang menarik adalah kebanyakan manusia berlaku acuh tak acuh pada lingkungannya. Misalnya saja kita tidak suka berada di tempat yang kotor dan banyak terdapat sampah berserakan, tapi justru kita sering kali membuang sampah di sembarang tempat dan sama sekali tak peduli melihat sampah yang kita temui ketika berjalan di suatu tempat. Sadar atau tidak, sadarilah bahwa hati kecil kita sering kali menjerit pada kita ketika terdapat sampah berserakan, ketika kita melihat orang yang membuang sampah sembarangan, atau ketika kita melihat keadaan suatu tempat yang barantakan. Hati kita berteriak, “ih, kotor banget”, “ih, jorok banget buang sampah sembarangan”, “kok berantakan banget, sih”. Hal yang menarik, tapi tragis.
Ironisnya, kita selalu melakukan hal-hal yang menyakiti diri kita sendiri dengan tidak menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan sekitar kita. Kebanyakan dari kita terlalu egois dan tidak mau menghargai dengan baik apa yang diberikan oleh lingkungan. Manusia adalah mahkluk yang sangat miskin karena tanpa alam manusia tidak dapat hidup. Tapi manusia adalah mahkluk yang berakal dan cerdik karena itu ia dapat menjalankan tugasnya dalam mengelola alam tempatnya hidup. Masalahnya adalah seberapa baik manusia dapat membina hubungan “penuh cinta” antara ia dengan alam. Bila hubungan itu terjalin dengan harmonis maka tentulah kedua belah pihak akan sama-sama diuntungkan layaknya yang terjadi pada “simbiosis mutualisme”. Alam menyediakan segala fasilitas bagi manusia untuk hidup, sedangkan manusia menjaga alam agar lestari dan tidak rusak.
Apabila manusia mempertahankan keseimbangan dalam “simbiosis” yang terjadi, maka iapun dapat mereduksi jumlah bencana yang akan timbul akibat kerusakan alam. Bencana timbul kebanyakan akibat ulah manusia sendiri yang kurang tanggap dan menghargai lingkungannya. Oleh karena itu, permasalahan lingkungan hidup selalu dapat menghantui kita, bila kita berpikir. Seorang pemerhati lingkungan seperti duta lingkungan hidup tidak akan mampu berbuat banyak bila masyarakat sekitarnya belum menyadari dengan baik betapa pentingnya menjaga hubungan “romantis” antara dirinya dengan lingkungannya.
Hal yang disampaikan di atas sangat sederhana, namun akan sangat sulit untuk dilakukan. Jalan yang harus kita tempuh untuk mempertahankan “simbiosis” tersebut begitu “mudah”, namun kita terlalu miskin untuk bisa memberi lebih dari yang kita inginkan kepada alam kita. Balasan kita tak akan pernah sebanding dengan apa yang disediakan alam untuk kita. Pantaslah kita untuk berusaha memberikan yang terbaik dari kita untuk melindungi lingkungan hidup kita.
Apa yang dapat kita perbuat untuk menjaga simbiosis itu? Tidak perlu yang besar. Bila kita semua mau bekerja sama untuk mewujudkannya maka efek yang akan dihasilkan akan menjadi berlipat-lipat. Mulailah untuk kembali mengikuti kata hati yang membisikkan kebaikan. Janganlah membuang sampah sembarangan. Manfaatkan sampah yang dapat di daur ulang. Hematlah pemakaian kertas dan plastik. Dukunglah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Mulailah berpikir besar untuk menghentikan penebangan liar dan berusahalah menemukan energi alternatif untuk membangun peradaban. Niscaya alam akan “tersenyum” bersama kita.
Hal terpenting dari segalanya adalah pencerdasan atau penanaman kesadaran kepada seluruh elemen. Tahu tapi tidak sadar, sadar tapi tidak tahu harus berbuat apa. Maka, sudah sepantasnya kita tidak saling menuntut dan menyalahkan, melainkan berpikir menemukan solusi dan melakukan langkah nyata. Itulah yang seharusnya kaum terpelajar lakukan di tengah segala masalah yang ada, dan merubah mind set bukanlah hal yang mudah. Karena itu kita perlu bekerja sama dengan baik untuk dapat mewujudkannya.

Oleh Sitha Arilah Ichsan
(Duta Lingkungan Hidup FMIPA Institut Pertanian Bogor 2010)

1 komentar:

Unknown said...

Bagus Artikelnya

Post a Comment

Isikan Pesan Anda! jangan lupa sematkan website dan email anda. terima kasih atas kunjungan ke website kami